Pendanaan startup Indonesia turun lebih dari 90% dalam empat tahun terakhir. Dari puncak USD 4,7 miliar di 2021, angkanya kini diperkirakan di bawah USD 500 juta pada akhir 2025.
Sementara itu, Singapura tetap stabil di kisaran USD 4–5 miliar per tahun. Vietnam justru tumbuh dalam tiga tahun terakhir. Malaysia mulai menarik investor global dengan paket insentif fiskal.
Kalau penurunan Indonesia hanya soal normalisasi pasca-pandemi atau suku bunga global, kita harusnya melihat pola serupa di tetangga. Faktanya tidak. Ada variabel lain yang membedakan — dan salah satunya makin sulit diabaikan: ketidakpastian hukum seputar keputusan investasi.
Kenapa modal ventura beda dari yang lain
Investasi di startup tahap awal bukan investasi biasa. Berbeda dengan instrumen keuangan konvensional yang punya data historis dan tingkat prediktabilitas relatif tinggi, modal ventura beroperasi di ranah ketidakpastian yang jauh lebih dalam.
Riset Harvard Business School (Gompers & Lerner, 2020) menunjukkan polanya: 30–40% investasi VC berakhir rugi total. Lebih dari separuh startup yang didanai tidak pernah memberi imbal hasil berarti. Hanya 5–10% yang menghasilkan return signifikan.
Ini bukan kegagalan tata kelola. Ini distribusi probabilitas yang melekat pada investasi inovasi.
Investor profesional menjalankan due diligence berlapis — uji tuntas hukum, keuangan, teknis, wawancara pelanggan, verifikasi referensi pendiri. Tapi tidak ada due diligence, setebal apa pun, yang bisa mengeliminasi sepenuhnya risiko adverse selection atau moral hazard. Ketika pendiri startup dengan sengaja memalsukan laporan keuangan, menciptakan pendapatan fiktif, atau menyembunyikan liabilitas, investor profesional sekalipun bisa jadi korban. Dalam literatur ekonomi, ini dikenal sebagai principal-agent problem.
Pertanyaannya: kalau keputusan investasi yang sudah melalui prosedur profesional — lalu gagal karena fraud pihak ketiga — bisa berujung tuntutan pidana, di mana batas antara risiko bisnis yang wajar dan kelalaian yang bisa dipidana?
Apa yang sebenarnya terjadi di ekosistem
Tren pelarian aktivitas pendanaan bisa dijelaskan lewat empat mekanisme yang saling memperkuat.